Pemekaran Propinsi Papua Selatan, Untuk Siapa….? Siapa Yang Untung, Dan Siapa Yang Rugi…..?

Oleh : Kabar Kampung

Merauke,Pemekaran Propinsi Papua Selatan yang sedang diperjuangkan oleh kaum penguasa atau dikatakan saja penjajah (klonial) Indonesia dalam bentuk kelompok (Borjois) yang hanya memanfaatkan dari penderitaan masyarakat suku bangsa Papua Merauke, Boven Digoel, Asmat dan Mappy. Mereka-mereka (Kaum Borjuis) ini sama sekali tidak mempunyai dasar yang mendasari untuk membentuk suatu wilayah baru ini. Dalam UU Otsus No.21 Tahun 2001 saja tidak ada, dan tidak perna tertulis tentang pemekaran-pemekaran wilayah. Tetapi karena mungkin negara Indonesia ini sudah tidak mampu lagi untuk membiayai/bertanggung jawab atas orang Papua.

Apa lagi utang negara Indonesia ini terhadap negara luar sangat tidak bisa di hitung dan dikembalikan lagi, maka pemerintah Indonesia sengaja saja mau mengalabuih UU Otsus ini dengan dikeluaran Inpres UU. No. 33 Tahun 2003 oleh Megawati tentang pemekaran wilayah baru di Papua, dan Inpres No.77 Tahun 2007 oleh SBY tentang percepatan pembangunan. Semua yang dilakukan ini tujuannya untuk bagaimana mengeksploitasi seluruh potensi alam di Bumi cenderawasih ini, demi kesejahteraan oknum-oknum itu sendiri dan juga orang-orang yang di Jakarta sana pada umumnya demi kaum penjajah. Perbuatan ini sungguh sangat bernaluri “Binatang”, jikalau pemerintahan Indonesia ini di nakodai oleh seorang manusia, pasti sangat tidak mungkin berkelekuan seperti binatang.

Pemekaran propinsi papua selatan pada dasarnya hanya bertujuan untuk kepentingan kaum penjajah dalam kelompok borjuis yaiutu sekelompok orang di Papua baik di propinsi dan di kabupaten, bekerja sama dengan orang di Jakarta seperti Mendagri serta kroni-kroninya, mereka-mereka (penjajah) ini selalu memenuhi kebutuhan hidup mereka, hanya dengan cara memaksakan hak-hak orang lain, untuk memenuhi kebutuhan hidup, mereka melakukan dengan cara; Merampas, Menindas, Membunuh, suku bangsa Papua Merauke, Boven Digoel, Asmat dan Mappy, setelah itu mereka mau mengeksploitasikan Sumber Daya Alam (SDA) yang terkandung didalam tanah maupun diluar kulit tanah’ ini sudah jelas.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka Kaum penjajah dalam kelompok Borjuis ini agar segerah terlaksanakan impian mereka untuk pemekaran propinsi papua selatan ini harus terbentuk, maka mereka menuntut juga agar daerah “Muyu” harus di mekarkan menjadi suatu kabupaten Muyu sehingga dengan sendirinya pemekaran propinsi papua selatan juga berdiri sebagai suatu propinsi, agar apa saja yang mau dilakukan oleh mereka (penjajah) diatas wilayah suku bangsa Merauku, Boven Digoel, Asmat, dan Mappy sesuai dengan kepentingan mereka (penjajah).

Sungguh suatu tindakan yang sangat keliru karena tidak melaluai peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam Negara Indonesia itu, mungkin juga karena pemerintaahan ini sangat tidak berjalan diatas Dasar UU sebagai landasan suatu Negara, maka banyak sekali setiap pemimpin penjajah selalu saja membuat peraturan-peraturan yang notabenenya demi kepentiang Individu dan Kelompok mereka. Dan anggap saja seluruh kekayaan yang ada pada bumi Cenderawasih ini merupakan hak mutlak bagi mereka (penjajah).

Perjalanan perjuangan pemekaran propinsi papua selatan ini sendiri sudah cukup lama sesuai dengan umur kelompok-kelompok Borjuis itu, yang selalu dengan setia mencari manfaat dari penderitaan masyarakat suku bangsa Papua Merauke, Boven Digoel, Asmat, dan Mappy. Masyarakat suku bangsa Papua Merauke, Boven Digoel, Asmat, dan Mappy adalah suku bangsa yang hidup berdasarkan asal usul Nenek Moyang secara turun-temurun, yang mempunyai kekuasaan mutlak atas tanah dan kekayaan alam, mempunyai aturan adat yang mengatur kehidupan dari nenek Moyang Sampai dengan anak cucu mereka.

Secara budaya suku bangsa Papua Merauke, Boven Digoel, Asmat, dan Mappy mempunyai Ciri Khas tersendiri yang membedakan mereka dengan penjajahnya bangsa Indonesia keturunan “Proto Malay” dan bangsa putih “ Barat”. Suku bangsa Papua Merauke, Boven Digoel, Asmat, dan Mappy mempunyai keadaan hidup sama dengan Saudara/I Papua lainnya di bumi Cenderawasih. Mereka hidup dalam kondisi yang sangat memprihatinkan, mereka yang paling tersiksa, terhina dan akan musnah/dibunuh habis. Mereka telah menjadi makanan bergizi tinggi yang siap dimakan oleh penjajah Indonesia dan Barat.

Penjajah yang mempunyai naluri binatang ini selalu memandang mereka dengan ucapan-ucapan seperti orang malas, bodok, kotor dan masih ada lagi sehingga harus dididik oleh penjajah yang katanya orang pintar,bersih, rajin, dan masih ada lagi. Ungkapan-ungkapan diastas sebetulnya sudah menunjukan sifat binatang dari penjajah yang sebenarnya sudah terjangkit penyakit kematian. Penyakit kematian artinya colonial (Penjajah) ini mereka lebih senang melihat benda mati seperti meja, kursi, buku dll. Oleh karena itu mereka tidak suka melihat suku bangsa Papua Merauke, Boven Digoel, Asmat, dan Mappy menamai dunia menurut kata-kata mereka sendiri, berbuat apa saja menurut kamauannya sendiri. Atau dapat memfungsikan seluruh organ individunya.

Tetapi masih tetap saja mereka harus diatur sesuai dengan kemauan penjajah, seperti pemilik rumah yang mengatur kursi, meja, bangku atau mengatur binatang peliharaannya seperti rusa, babi, saham, kasuari sesuai dengan kemauan pemilik benda dan binatang. Apakah mau dipindahkan atau dibunuh tergantung pemilik benda atau ternak. Pemekaran ini merupakan berbentuk nyata dari kegiatan kaum penjajah (Indonesia/Barat). Mereka telah membagi tanah milik suku bangsa di Merauke, Boven Digoel, Asmat, Mappy sesuai dengan keinginan kaum penjajah. Misalnya sebutan Desa, Kecamatan/Distrik, Kabupaten, Propinsi yang sangat mengasingkan. Usaha-usaha pemekaran ini di lakukan dengan berbagai alasan seperti pembangunan untuk mensejahterakan suku bangsa Papua di seluruh tanah Papua ini.

Ucapan kemanusiaan yang berkedok babi yang selalu dikeluarkan dari mulut pejabat-pejabat orang Papua di seluruh Papua yang sama seperti sapi yang diconger hidungnya kesana – kemari oleh para penjajah Neokolonialis Indonesia. Pemimpin Rakyat seharusnya tau berpikir, Beranalisis, dan Bertindak sebagai manusia Papua yang sebernya, jangan bernaluri Hewani, sehingga tidak lagi membebek dibelakang pimpinan-pimpinan penjajah “Neokolonialis Indonesia.

Satu Tanggapan

  1. Sobat,. kamu adalah keturunan yg tdk jls di dunia ini. kamu adalh keturunan tikus yg hidup di kotoran, maka kamu tdk tauh siapa kamu itu. sy menulis krna sy mempunyai wawasan yg lebih luas dr pd kamu…. saya rambut keriting, kulit hitam punya hak dn tempat yg jelas di dunia ini dibanding kamu. jelas kan..? he..he..he..

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.