Budak-Budak Kolonial

Oleh : Kabar Kampung

Budak – Budak Kolonial Atau Pejabat

Orang-orang Asli Papua yang menjadi pejabat diberbagai tingkatan, baik eksekutif,legislatif dan beberapa orang di yudikatif sesungguhnya belum menyadari diri mereka sendiri. Mereka hanya dijadikan tameng atau topeng atau lebih tepat adalah budak-budak bangsa kolonial. Keberadaan orang-orang asli Papua sebagai budak-budak bangsa kolonial belum pernah membawah manfaat bagi orang-orang asli Papua. Mereka-mereka ini menjadi Gubernur dan wakil gubernur Jakarta, Bupati dan wakil bupati, Ketua DPRD/P, wakil dan Anggota DPRD/P Jakarata. Baca selebihnya »

Upayah Pembasmian Etnis Papua Terus Dipraktekan Oleh Kekuatan Nagara Indonesia

Oleh : Kabar Kampung

PRESS RELEASE
EKNAS FRONT PEPERE PAPUA BARAT

Program pembasmian etnis bangsa Papua oleh negara indonesia melalui kaki tangan besinya, seperti TNI dan Polri terus berlanjut. Mesin-mesin pembatai sudah dan sedang bergerak maju mundur, rudal-rudal pembantai sudah dan sedang diluncurkan disegalah pelosok tanah Papua Barat. Singa mengaung-ngaung mencari mangsa untuk dimangsa; serigala beterbangan kian kemari menghabiskan etnis bangsa Papua Barat. Baca selebihnya »

Pemekaran Propinsi Papua Selatan, Untuk Siapa….? Siapa Yang Untung, Dan Siapa Yang Rugi…..?

Oleh : Kabar Kampung

Merauke,Pemekaran Propinsi Papua Selatan yang sedang diperjuangkan oleh kaum penguasa atau dikatakan saja penjajah (klonial) Indonesia dalam bentuk kelompok (Borjois) yang hanya memanfaatkan dari penderitaan masyarakat suku bangsa Papua Merauke, Boven Digoel, Asmat dan Mappy. Mereka-mereka (Kaum Borjuis) ini sama sekali tidak mempunyai dasar yang mendasari untuk membentuk suatu wilayah baru ini. Dalam UU Otsus No.21 Tahun 2001 saja tidak ada, dan tidak perna tertulis tentang pemekaran-pemekaran wilayah. Tetapi karena mungkin negara Indonesia ini sudah tidak mampu lagi untuk membiayai/bertanggung jawab atas orang Papua. Baca selebihnya »

Pendidikan Revolusioner

Oleh : Kamayap

1. Pendidikan adalah tugas penting bagi kaum revolusioner. Sangat penting karena apa yang diperlukan dalam revolusi adalah perjuangan yang massa yang sesadar sesadarnya. Aksi-aksi yang didasarkan pada kesempatan dan katidakpastian adalah berbahaya bagi massa dan revolusi. Aksi yang revolusioner bukanlah perjuangan yang tergesa-gesa (impulsif) yang didasarkan pada emosi. Sebaliknya tiap langkah didasarkan pada studi ilmiah mengenai syarat-syarat dan kebutuhan-kebutuhan revolusi. Dari pendidikan yang memberi semangat kita dapat dapat menetapkan apa yang seharusnya dikerjakan, merumuskan rencana-rencana kita dan cara-cara mencapainya. Baca selebihnya »

Cara NKRI Mempertahankan Kekuasaannya Di Papua Barat

Oleh : Kamayap

NKRI atau Neo Kolonialis Rasis Indonesia secara resmi menancapkan kuku kekuasaannya atas Papua Barat pada tanggal 1 Mei 1963 melalui sebuah invasi militer yang dikenal dengan TRIKORA. TRIKORA atau Tri Komando Rakyat, yang salah satu point-nya berbunyi : “Bubarkan Negara Boneka Papua Buatan Belanda Kolonial”, adalah sebuah gerakan yang dicanangkan oleh Soekarno pada tanggal 19 Desember 1961 untuk membunuh bayi Papua Barat yang baru lahir. IA lahir pada tanggal 1 Desember 1961. Baca selebihnya »

Asal-Usul Penindasan Perempuan

Oleh : Kamayap

Perempuan berderajat lebih rendah daripada laki-laki – inilah anggapan umum yang berlaku sekarang ini tentang kedudukan kaum perempuan dalam masyarakat. Anggapan ini tercermin dalam prasangka-prasangka umum, seperti “seorang istri harus melayani suami”, “perempuan itu turut ke surga atau ke neraka bersama suaminya”, dll. Prasangka-prasangka ini mendapat penguatan dari struktur moral masyarakat yang terwujud dalam peraturan-peraturan agama dan adat. Lagipula, sepanjang ingatan kita, bahkan nenek-moyang kita, keadaannya memang sudah begini. Baca selebihnya »

Langkah-Langkah Konkrit Menuju Proteksi Dan Papuanisasi

Oleh : Kamayap

Dalam menyikapi perubahan dewasa ini menuju Papua Baru, beberapa langkah konkrit yang perlu diambil: (a). Kedepan ini orang Papua diberi waktu dan kemerdekaan (diberi perlindungan dengan mencegah orang Non Papua memasuki tanah Papua) untuk membenahi diri dan menginventarisasi potensi dan kekuatan sosial budaya yang dapat mereka gali dan pake sebagai aset dalam proses sebagai subyek pembangunan. Baca selebihnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.